Sedikit berbagi tentang novel e-book yang ku baca,, awalnya sih
penasaran saja dengan judulnya “apa yaa ?? apa hidup ini kan lebih baik dari
mimpi,, jika kalian juga tertarik,, silahkan download di sini,, mudah-mudahan
ada yang bisa tersentuh dengan isi dari novel tersebut,,,,
Senin, 16 April 2012
Senin, 20 Februari 2012
FARMASI : Istilah-Istilah Obat
Obat merupakan
semua bahan atau obat baik kimiawi, hewani, maupun nabati yang dalam dosis
layak dapat menyebuhkan, meringankan, atau mencegah penyakit barikut dengan
gejalanya.
Obat sering disebut
obat modern ialah suatu bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan
diagnosa, mencegah, mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau
gejala penyakit, luka, atau kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia atau
hewan, memperelok badan atan bagian tubuh manusia. Berikut istilah-istilah obat
yang berlaku sekarang ini :
a.
Obat tradisional, adalah obat jadi
atau obat berbungkus yang berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan, hewan, mineral,
dan atau sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang usaha
pengobatan berdasarkan pengalaman. (PerMenkes No.179/Menkes/Per/VII/1976).
b.
Obat jadi, adalah obat yang dalam
keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk, cairan, salep, tablet, pil,
supositoria, atau bentuk lain yang mempunyai teknis sesuai dengan referensi yang
lain.
c.
Obat paten, adalah obat jadi dengan
nama dagang yang terdaftar atas nama si pembuat atau dikuasakan dan dijual
dalam bungkus asli dari pabrik yang membungkusnya.
d.
Obat generik berlogo, adalah obat
esensial yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan mutunya
terjamin karena diproduksi sesuai dengan persyaratan cara pembuatan obat yang
baik dan diuji ulang oleh pusat pemeriksaan obat dan makanan Departemen
Kesehatan.
e.
Obat baru, adalah obat yang terdiri
atau berisi suatu zat baik sebagai bagian yang berkhasiat, bahan pembantu,
komponen lain yang belum dikenal, sehingga tidak diketahui khasiat dan
keamanannya.
f.
Obat esensial, adalah obat yang
paling dibutuhkan untuk pelaksanaan pelayanan kesehatan bagai masyarakat
terbanyak yang meliputi diagnosa, profilaksi terapi, dan rehabilitasi.
g.
Obat wajib apotik, adalah obat keras
yang dapat diserahkan tanpa resep dokter oleh apoteker di apotik.
Nama-Nama Latin Tumbuhan
Dalam biologi, tumbuhan merujuk pada organisme yang termasuk ke dalam Regnum
Plantae. Di dalamnya masuk semua organisme yang sangat biasa
dikenal orang seperti pepohonan, semak,
terna, rerumputan, paku-pakuan, lumut, serta sejumlah alga hijau. Tercatat sekitar 350.000 spesies organisme termasuk di dalamnya, tidak termasuk alga
hijau. Dari jumlah itu, 258.650 jenis merupakan tumbuhan berbunga dan 18.000 jenis tumbuhan lumut. Hampir semua anggota tumbuhan bersifat autotrof, dan mendapatkan energi langsung dari cahaya
matahari melalui proses fotosintesis. Karena warna hijau amat dominan pada anggota
kerajaan ini, nama lain yang dipakai adalah Viridiplantae ("tetumbuhan
hijau"). Nama lainnya adalah Metaphyta.
Berikut merupakan nama-nama tumbuhan yang disertai dengan
nama latinnya.
Minggu, 19 Februari 2012
Statistika Farmasi
Apa
Itu Statistika Farmasi ??
Secara
harfiah, statistika farmasi dapat di bagi dalam dua kata, yaitu statistika dan
farmasi. Statistika dapat diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara mengumpulkan
fakta/data, pengolahan data, kemudian menganalisis data tersebut sehingga dapat
diperoleh suatu kesimpulan/keputusan. Dan Farmasi adalah
suatu profesi yang berkaitan dengan kesehatan yang berkaitan dengan ilmu
pengetahuan kesehatan dan kimia. Farmasi juga adalah suatu profesi di bidang
kesehatan yang meliputi kegiatan-kegiatan di bidang penemuan, pengembangan,
produksi, pengolahan, peracikan, dan distribusi obat. Jadi, Statistika Farmasi
dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana cara-cara
mengumpulkan fakta/data, pengolahan data, yang kemudian menganalisis sehingga
dapat diperoleh suatu kesimpulan/keputusan yang berhubungan dengan ilmu
kefarmasian itu sendiri.
Untuk
Apa Statistika Dipelajari ??
Statistik sangat
dibutuhkan dalam penelitian dan memiliki peranan:
1.
Statistik memungkinkan pencatatan
secara lengkap dari data penyelidikan
2.
Statistik memampukan seorang
peneliti untuk bekerja secara berurutan dari awal sampai akhir
3.
Statistic menyediakan cara-cara
meringkas data kedalam bentuk yang lebih banyak artinya dan lebih gampang
mengerjakannya
4.
Statistic memberikan dasar-dasar
melalui proses-proses yang mengikuti aturan yang dapat diterima oleh ilmu
pengetahuan
5.
Statistic memberikan landasan untuk
meramalkan secara ilmiah tentang bagaimana sesuatu gejala akan terjadi dalam
kondisi-kondisi yang telah diketahui
6.
Statistic memungkinkan peneliti
menganalisa, menguraikan sebab akibat yang kompleks dan rumit yang tanpa
statistic akan merupakan persoalan yang membingungkan serta kejadian yang tak
teruraikan
Fungsi statistika
1.
Menggambarkan data dalam bentuk tak tentu
2.
Menyederhanakan data yang komplek menjadi data yang mudah dimengerti
3.
Merupakan teknik untuk membuat perbandingan
4.
Memperluas pengalaman individu
5.
Menentukan tingkat hubungan atau peranan antar variable
6.
Mengukur besar besaran variable
Statistika berperan
dalam setiap kegiatan kehidupan. Sebagai contoh, dalam ilmu farmasi itu sendiri
digunakan untuk menganailsa suatu takaran ataupun dosis yang tepat dalam
membuat obat-obatan.
Farmasi Klinik
Farmasi klinik merupakan ilmu
kefarmasian yang relatif baru berkembang di Indonesia. Istilah farmasi
klinik mulai muncul pada tahun 1960-an di Amerika, yaitu suatu disiplin ilmu
farmasi yang menekankan fungsi farmasis untuk memberikan asuhan kefarmasian (pharmaceutical
care) kepada pasien, bertujuan untuk meningkatkan outcome
pengobatan. Secara filosofis, tujuan farmasi klinik adalah untuk memaksimalkan
efek terapi, meminimalkan risiko, meminimalkan biaya pengobatan, serta
menghormati pilihan pasien. Saat ini, disiplin ilmu tersebut semakin dibutuhkan
dengan adanya paradigma baru tentang layanan kefarmasian yang berorientasi pada
pasien. Tenaga farmasi yang bekerja di rumah sakit dan komunitas (apotek,
puskesmas, klinik, balai pengobatan dan dimanapun terjadi peresepan ataupun
penggunaan obat), harus memiliki kompetensi yang dapat mendukung pelayanan
farmasi klinik yang berkualitas. Hal ini berdampak pada perubahan kurikulum
pendidikan farmasi di hampir semua negara termasuk Indonesia, untuk
menyesuaikan dengan kebutuhan akan kompetensi tersebut.
a. Sejarah perkembangan farmasi klinik
Istilah farmasi klinik pertama kali
muncul di Amerika sekitar tahun 1960. Disiplin ilmu ini muncul berawal dari
ketidakpuasan masyarakat terhadap praktek pelayanan kesehatan. Agar lebih jelas
berikut ini diuraikan perkembangan profesi kefarmasian yang telah mengalami
beberapa kali perubahan, dibagi menjadi 3 periode yaitu :
1) Periode
tradisional (sebelum tahun 60- an)
Dalam periode ini fungsi farmasis
adalah menyediakan, membuat/meracik, dan mendistribusikan produk berkhasiat
obat. Tenaga farmasi sangat dibutuhkan di apotek sebagai peracik obat. Periode
ini mulai mulai goyah saat terjadi revolusi industri dimana terjadi
perkembangan pesat di bidang industri tidak terkecuali industri farmasi. Ketika
itu sediaan obat jadi dibuat oleh industri farmasi dalam jumlah besar-besaran.
Dengan beralihnya sebagian besar pembuatan obat oleh industri maka fungsi dan tugas
farmasis berubah. Dalam pelayanan resep dokter, farmasis tidak lagi banyak
berperan pada peracikan obat karena obat yang tertulis di resep sudah bentuk
obat jadi yang tinggal diserahkan kepada pasien. Dengan demikian peran profesi
kefarmasian makin menyempit.
2) Tahap
transisional ( 1960-1970 )
Pada periode ini terjadi banyak
perkembangan antara lain: ilmu kedokteran cenderung semakin spesialistis serta
ditemukannya obat-obat baru yang lebih efektif. Seiring dengan semakin pesatnya
jumlah obat, semakin meningkat pula permasalahn yang timbul terkait
penggunaan obat yaitu munculnya masalah kesehatan akibat efek samping obat,
interaksi antar obat, teratogenesis dll. Selain itu biaya kesehatan
semakin meningkat akibat penggunaan teknologi canggih di bidang kesehatan yang
sangat mahal, meningkatnya permintaan pelayanan kesehatan secara kualitatif
maupun kuantitatif, disertai dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat
untuk pelayanan medis dan farmasi yang bermutu tinggi. Kecenderungan tersebut
mengakibatkan adanya suatu kebutuhan yang meningkat terhadap tenaga profesional
yang memiliki pengetahuan komprehensif mengenai pengobatan yang tidak lain
adalah farmasis (apoteker). Akibat situasi tersebut akhirnya muncullah
istilah pelayanan farmasi klinik.
3)
Periode “Masa Kini” (dimulai tahun 1970)
Pada periode ini mulai terjadi
pergeseran paradigma yang semula pelayanan farmasi berorientasi pada produk,
beralih ke pelayanan farmasi yang berorientasi lebih pada pasien. Farmasis
ditekankan pada kemampuan memberian pelayanan pengobatan rasional. Terjadi
perubahan yang mencolok pada praktek kefarmasian khususnya di rumah sakit,
yaitu dengan ikut sertanya tenaga farmasi di bangsal dan terlibat langsung
dalam pengobatan pasien. Karakteristik pelayanan farmasi klinik di rumah sakit
adalah :
- Berorientasi kepada pasien
- Terlibat langsung di ruang perawatan di rumah sakit (bangsal)
- Bersifat pasif, dengan melakukan intervensi setelah pengobatan dimulai dan memberi informasi bila diperlukan
- Bersifat aktif, dengan memberi masukan kepada dokter sebelum pengobatan dimulai, atau menerbitkan buletin informasi obat atau pengobatan
- Bertanggung jawab atas semua saran atau tindakan yang dilakukan
- Menjadi mitra dan pendamping dokter.
Dalam sistem pelayanan kesehatan
pada konteks farmasi klinik, farmasis adalah ahli pengobatan dalam terapi.
Mereka bertugas melakukan evalusi pengobatan dan memberikan rekomendasi
pengobatan, baik kepada pasien maupun tenaga kesehatan lain. Farmasis merupakan
sumber utama informasi ilmiah terkait dengan penggunaan obat yang aman, tepat
dan cost effective.
b. Farmasi Klinik di Indonesia
Di Indonesia, praktek pelayanan farmasi
klinik baru berkembang pada tahun 2000- an, dimulai dengan adanya beberapa
farmasis yang belajar farmasi klinik di berbagai institusi pendidikan di luar
negeri. Seperti halnya di luar negeri, konsep pelayanan farmasi klinik tidak
dengan mudah diterima oleh tenaga kesehatan lain di rumah sakit. Masih dianggap
ganjil jika farmasis yang semula berfungsi menyiapkan obat di Instalasi Farmasi
Rumah Sakit kemudian ikut masuk ke bangsal perawatan dan memantau perkembangan
pengobatan pasien. Apalagi bila ikut memberikan rekomendasi pengobatan, seperti
yang sekarang lazim dilakukan di negara maju seperti Amerika, Australia, dan
Inggris. Dari farmasis sendiri, selama ini terkesan kurang yakin atau kurang
percaya diri untuk bisa memainkan peran dalam pengobatan. Hal ini kemungkinan
besar disebabkan oleh sejarah kurikulum pendidikan farmasi dengan muatan sains
yang masih cukup besar (sebelum tahun 2001), sementara pendidikan ke arah
klinik masih sangat terbatas, Hal ini menyebabkan farmasis merasa gamang bicara
tentang penyakit dan pengobatan.
Perkembangan farmasi klinik di
Indonesia mulai mendapat angin segar pada tahun 2001, ketika terjadi restrukturisasi
pada Departemen Kesehatan di mana waktu itu dibentuk Direktorat Jendral Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan, dengan Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan
Klinik di bawahnya. Badan tersebut mengakomodasi pekerjaan kefarmasian sebagai
salah satu pelayanan kesehatan utama, tidak sekedar sebagai penunjang. Peran
dan fungsi tenaga farmasi pada praktek kefarmasian semakin jelas dengan
dikeluarkannya Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 sebagai pengganti UUK
No. 23 tahun 1992, serta dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009
tentang pekerjaan kefarmasian.
Sumber : Dari Berbagai Sumber
Sumber : Dari Berbagai Sumber
Langganan:
Postingan (Atom)


