Di dalam artikel kali ini memuat berbagai istilah-istilah dalam parasitologi mulai dari abjad "A" sampai dengan "Z", jadi langsung saja silahkan dibaca, dan apabila berkenan silahkan dishare ataupun didownload. Di sini kita saling berbagi apa yang kita ketahui.
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Kesehatan Masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Kesehatan Masyarakat. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 Mei 2016
BIOMEDIK : Peranan Sitoplasma, Mitokondria, Dan Ribosom Dalam Metabolisme Sel.
1. Peranan
Sitoplasma, Mitokondria, Dan Ribosom Dalam Metabolisme Sel.
a.
Sitoplasma
Sitoplasma berfungsi
sebagai tempat penyimpanan bahan bahan kimia yang penting bagi metabolisme sel,
seperti enzim-enzim, ion-ion, gula, lemak dan protein. Sitoplasma adalah tempat
dimana semua pekerjaan dalam sel dilakukan. Nutrisi yang diserap, diangkut, dan
diproses dalam sitoplasma. Sitoplasma juga menyediakan struktur fisik untuk
sel. Sitoplasma memainkan peran mekanik, yaitu (misalnya) untuk mempertahankan
bentuk, konsistensi sel dan memberikan suspensi kepada organel. Ini juga merupakan
tempat penyimpanan bahan kimia diperlukan untuk kehidupan. Reaksi metabolik
penting terjadi di sini, misalnya glikolisis anaerob dan sintesis protein.
Didalam sitoplasma itulah berlangsung kegiatan pembongkaran dan penyusunan zat
zat melalui reaksi kimia. Misalnya proses pembentukan energi, sintesis asam
lemak, asam amino, protein dan Nukelotida. Sitoplasma “mengalir” di dalam sel
untuk menjamin berlangsungnya pertukaran zat agar metabolisme berlangsung
dengan baik.
b.
Mitokondria
Mitokondria berfungsi sebagai pabrik energi sel
yang menghasilkan energi dalam bentuk ATP. Metabolisme karbohidrat akan
berakhir di mitokondria ketika piruvat di transpor dan dioksidasi oleh O2¬
menjadi CO2 dan air. Energi yang dihasilkan sangat efisien yaitu sekitar tiga
puluh molekul ATP yang diproduksi untuk setiap molekul glukosa yang dioksidasi,
sedangkan dalam proses glikolisis hanya dihasilkan dua molekul ATP. Proses
pembentukan energi atau dikenal sebagai fosforilasi oksidatif terdiri atas lima
tahapan reaksi enzimatis yang melibatkan kompleks enzim yang terdapat pada
membran bagian dalam mitokondria. Proses pembentukan ATP melibatkan proses
transpor elektron dengan bantuan empat kompleks enzim, yang terdiri dari
kompleks I (NADH dehidrogenase), kompleks II (suksinat dehidrogenase), kompleks
III (koenzim Q – sitokrom C reduktase), kompleks IV (sitokrom oksidase), dan
juga dengan bantuan FoF1 ATP Sintase dan Adenine Nucleotide Translocator (ANT).
Gambar
Mitokondria
c.
Fungsi Ribosom
1. Sebagai tempat sintesis protein
2. Mesin yang mengatur dan memilih komponen-komponen yang terlibat dalam
sintesis protein.
3. Untuk mengikat asam-asam amino yang ada dalam sitoplasma.
Gambar Ribosom
2. Mekanisme
Transport Melalui Membran Plasma
Mekanisme transpor pada membran adalah proses
keluar masuknya molekul melewati membrane sel. Berbagai macam
molekul, seperti glukosa, oksigen, dan karbondioksida senantiasa harus melewati
membran sel untuk keluar-masuk sel dalam proses metabolisme.
Transpor zat melalui membran plasma bertujuan :
Ø
Memasukkan
gua, asam amino, dan nutrien lain yang diperlukan sel.
Ø
Memasukkan
oksigen (O2) dan mengeluarkan karbon dioksida (CO2) pada proses respirasi sel.
Ø
Mengatur
konsentrasi ion anorganik di dalam sel, contohnya ion Na+, K+, dan Ca2+.
Ø
Membuang
sisa-sisa metabolisme yang bersifat racun.
Ø
Menjaga
kestabilan pH.
Ø
Menjaga
konsentrasi suatu zat untuk mendukung kerja enzim
Transpor zat dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
1.
Transpor
aktif
Pergerakan molekul melawan
gradien konsentrasi (atau membran), dari konsentrasi rendah ke konsentrasi
tinggi sehingga memerlukan energi. Sember energi yang diperlukan berupa ATP
(adenosin trifosfat). Transpor
aktif meliputi pompa ion, kotranspor, dan endositosis-eksositosis.
1) Pompa ion
Pompa
ion adalah transpor ion melalui membran dengan pertukaran ion dari dalam sel
dan ion di luar sel. Mekanisme pompa ion terjadi akibat perubahan bentuk pada
protein membran sehingga memungkinkan molekul bisa melewatinya untuk keluar
atau masuk sel. Perubahan bentuk tersebut dilakukan menggunakan energi ATP.
Seperti ditunjukkan pada Gambar di atas, pompa
natrium-kalium mengangkut ion Na+ dan ion K+dengan cara sebagai berikut:
1.
pompa
Natrium-kalium mengikat ATP dan tiga ion Na + intraseluler.
2.
ATP
dihidrolisis menghasilkan adenosin difosfat (ADP) dan fosfat anorganik. Fosfat
bebas memfosforilasi pompa natrium-kalium.
3.
Perubahan
konformasi pada pompa mengekspos ion Na+ ke luar.
4.
Bentuk
pompa yang terfosforilasi memiliki afinitas ion Na + lebih rendah, sehingga mereka dilepaskan.
Pompa mengikat dua ion K + ekstraseluler.
Hal ini menyebabkan defosforilasi pompa, kembali ke keadaan konformasi
sebelumnya, mengangkut ion K + ke dalam
sel.
5.
Bentuk
pompa yang tidak terfosforilasi memiliki afinitas yang lebih tinggi untuk
Na + ion daripada ion K +, sehingga dua ion K + yang terikat dilepaskan.
6.
ATP
mengikat, dan proses dimulai lagi.
2) Kotranspor
Kotranspor adalah
transpor aktif dari zat tertentu yang dapat menginisasi transpor zat terlarut
lainnya. Kotranspor dilakukan oleh dua protein transpor dengan energi ATP.
Contoh : pompa proton H+ yang menggerakkan transpor sukrosa pada sel
tumbuhan, kemudia ion H+ yang keluar membawa sukrosa untuk memasuki protein
transpor lainnya. Mekanisme transpor H+ berguna untuk memindahkan sukrosa hasil
fotosintesis ke pembuluh daun dan selanjutnya didistribusikan ke akar.
3) Endositosis-eksositosis
Endositosis
adalah transpor makromolekul dan materi ke dalam sel dengan cara membentuk
vesikula baru dari membran plasma. Endositosis dibagi menjadi 2, yaitu pinositosis dan
fagositosis. Sedangkan, eksositosis adalah transpor makromolekul dan materi ke
luar sel dengan membentuk vesikula baru.
2.
Transpor
pasif
Transpor pasif
merupakan pergerakan molekul mengikuti gradien konsentrasi, dari
konsentrasi yang tinggi ke konsentrasi rendah, sehingga tidak memerlukan
energi. Transpor
pasif meliputi difusi, difusi dipermudah, dan osmosis.
1) Difusi
Difusi adalah
peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari
bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Difusi akan
terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas secara merata atau mencapai
keadaan seimbang dimana perpindahan molekul tetap terjadi walaupun
tidak ada perbedaan konsentrasi. Contoh yang sederhana adalah pemberian gula pada
cairan teh tawar, lama kelamaan teh itu menjadi manis. Faktor yang memengaruhi
kecepatan difusi :
Ø
Ukuran
partikel. Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan
bergerak, sehingga kecepatan difusi semakin tinggi.
Ø
Ketebalan
membran. Semakin tebal membran, semakin lambat kecepatan difusi.
Ø
Luas
suatu area. Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan difusinya.
Ø
Jarak.
Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat kecepatan difusinya.
Ø
Suhu.
Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak dengan lebih
cepat. Maka, semakin cepat pula kecepatan difusinya
2) Osmosis
Osmosis
adalah pergerakan air dari konsentrasi yang lebih tinggi ke rendah melewati
membran semipermeabel. Contoh peristiwa osmosis adalah air laut yang meskipun
memiliki beragam jenis zat terlarut, molekul airnya tetap akan bergerak ke
larutan gula yang konsentrasinya lebih tinggi.
Efek
osmosis :
Jika
konsentrasi larutan sel lebih rendah dibandingkan konsentrasi lingkungan
sekitarnya, maka air akan segera bergerak ke luar meninggalkan sel secara
otomatis, akibatnya sel menyusut dan mati (PLASMOLISIS).
Jika
konsentrasi larutan sel lebih tinggi dibandingkan konsentrasi lingkungan
sekitarnya, maka air akan segera bergerak masuk ke dalam sel secara otomatis,
akibatnya sel membengkak dan pecah, kecuali pada sel tumbuhan hanya
menggelembung dan menegan
3) Difusi terfasilitasi
Difusi terfasilitasi yaitu proses difusi yang dibantu
oleh protein pembawa (Carrier protein) seperti proses
pengangkutan glukosa dari lumen usus ke dalam pembuluh darah usus halus.
Molekul-molekul yang
melewati membran sel dengan difusi terfasilitasi adlah molekul-molekul yang
beurkuran besar seperti glukosa maupun molekul-molekul kecil seperti ar yang
memiliki protein membran khusus sebagai media transpor.
Sabtu, 02 Juni 2012
MAKANAN SEHAT : Manfaat dari Tempe
Lama dah tidak update, mumpung lagi ga ada kegiatan
aku pengen share yang mungkin layak untuk diketahui oleh teman-teman. Ini mengenai
manfaat tempe. Tentunya sabagai anak kost-kostan tempe pasti jadi menu utama
kita, jadi tentunya kita harus tau dong manfaat tempe itu apa bagi kita. So, ini sedikit ulasan tentang tempe, selamat
membaca :
Tempe merupakan salah satu produk makanan dari kacang
kedelai yang telah di fermentasi. Tempe banyak mengandung gizi tinggi yang
banyak manfaat bagi kesehatan seperti protein, karbohidrat, vitamin, lemak,
serat, enzim, daidzein, genisten, serta komponen antibakteri yang
bermanfaat untuk kesehatan.
Manfaat tempe bagi kesehatan baik untuk diberikan
kepada semua umur ( dari bayi hingga lansia ). Tempe merupakan makanan yang
tergolong ekonomis dari segi harga, dan bisa di konsumsi semua golongan. Tempe
sering dijumpai di rumah maupun di warung-warung, sebagai lauk dan pelengkap
hidangan ternyata tempe memiliki kandungan dan nilai cerna yang lebih baik
dibandingkan dengan kedelai.
Tempe dipercaya bermanfaat untuk mencegah anemia dan
osteoporosis, dua penyakit yang banyak diderita wanita, sebab kodrat wanita
yang harus mengalami haid, hamil serta menyusui bayi. Penyakit anemia ini dapat
menyerang wanita yang malas makan, karena takut gemuk, sehingga persediaan dan
produksi sel-sel darah merah dalam tubuh yang menurun., tempe juga dapat
berperan sebagai pemasok mineral, vitamin B12 (yang terdapat pada pangan
hewani), dan zat besi yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah.
Selain itu, tempe juga dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Senyawa
protein, asam lemak PUFA, serat, niasin, dan kalsium di dalam tempe dapat
mengurangi jumlah kolesterol jahat.
Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan
dalam bentuk isofalvon. Seperti halnya vitamin C, E dan karotenoid, isoflavon
merupakan antioksidan yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi
pembentukan radikan bebas. Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon, yaitu
daidzein, glisitein, dan genistein. Pada tempe, di samping ketiga jenis
isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4 trihidroksi
isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan
isoflavon dalam kedelai.
Penelitian yang dilakukan di Universitas North
Carolina, Amerika Serikat, menemukan bahwa genestein dan phytoestrogen yang
terdapat pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat, payudara dan
penuaan (aging). Antioksidan ini disentesis pada saat terjadinya proses
fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri Micrococcus leteus dan Coreyne
bacterium.
Pada tempe terjadi peningkatan nilai gizi kurang lebih
2 kali lipat setelah kedelai difermentasi menjadi tempe, seperti kadar vitamin
B2, vitamin B12, niasin, dan asam pantorenat. Bahkan hasil analisis, gizi tempe
menunjukkan kandungan niasin sebesar 1.13 mg/100 gram berat tempe yang dapat
dimakan.Karena kadar niasin pada kedelai hanya berkisar 0,58 mg.
Manfaat Tempe bagi kesehatan antara lain :
- Mencegah timbulnya hipertensi
- Memiliki sifat anti oksidan, menolak kanker
- Kandungan kalsiumnya yang tinggi, tempe dapat mencegah osteoporosis
- Protein yang terdapat dalam tempe sangat tinggi, mudah dicerna sehingga baik untuk mengatasi diare
- Mengandung zat besi, flafoid yang bersifat antioksidan sehingga menurunkan tekanan darah
- Daya hipokolesterol. Kandungan asam lemak jenuh ganda pada tempe bersifat dapat menurunkan kadar kolesterol
- Mengandung superoksida desmutase yang dapat mengendalikan radikal bebas, baik bagi penderita jantung
- Penanggulangan anemia, ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin karena kurang tersedianya zat besi (Fe), tembaga (Cu), Seng (Zn), protein, asam folat dan vitamin B12, di mana unsur-unsur tersebut terkandung dalam tempe
- Anti infeksi, hasil survey menunjukkan bahwa tempe mengandung senyawa anti bakteri yang diproduksi oleh karang tempe (R. Oligosporus) merupakan antibiotika yang bermanfaat meminimalkan kejadian infeksi
- Mencegah masalah gizi ganda (akibat kekurangan dan kelebihan gizi) beserta berbagai penyakit yang menyertainya, baik infeksi maupun degeneratif
Sumber : Berbagai Sumber
Kamis, 01 Desember 2011
Sosiologi Kesehatan
- Memperkenalkan Sosiologi
Kesehatan
Ilmu sosiologi adalah ilmu
yang mencakup seluruh aspek ilmu pengetahuan, tanpa terkecuali ilmu kesehatan.
Sehingga mengakibatkan para ahli kesehatan semakin banyak menaruh minat kepada
ilmu sosiologi. Hal ini tidak terlepas dari permasalahan yang dihadapi oleh
para tenaga kesehatan ketika berhadapan langsung dengan masyarakat yang
merupakan suatu kelompok sosial terluas. Didalam menjalankan praktek, para
dokter seringkali menghadapi berbagai persoalan, diantaranya yaitu kurangnya
minat masyarakat untuk berobat ke rumah sakit ataupun ke dokter. Hal ini di
karenakan masih adanya kecurigaan masyarakat meskipun dokter tersebut sangat
mengerti tentang penyakit dan bagaimana cara untuk mengobatinya.
Banyak masyarakat lebih
memilih mengobati penyakitnya sendiri ataupun berobat ke dukun daripada berobat
ke rumah sakit ataupun ke dokter. Hal ini sesuai dengan survey kesehatan rumah
tangga (1980) yang mengemukakan bahwa 34 % masyarakat lebih memilih mengobati
penyakitnya sendiri, dan 6 % memilih berobat ke dukun. Data tersebut
tentu saja sangat mengejutkan bagi kalangan ahli kesehatan. Maka dari
itu, para ahli kesehatan sangat membutuhkan penjelasan sosiologis tentang
keadaan dan kondisi yang terjadi dalam suatu wilayah masyarakat, dan mencari
cara dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi. Untuk lebih lanjut,
para tenaga kesehatan yang melayani masyarakat diharuskan untuk memahami
kondisi sosiologis dari manusia (individu) yang meliputi penjelasan-penjelasan
berikut ini.
- Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Manusia dikatakan sebagai mahluk sosial karena manusia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat. Dikatakan demikian, karena manusia membutuhkan untuk saling berinteraksi sosial dengan orang lain di dalam suatu kelompok untuk mempertahankan eksistensinya sebagai manusia. Kelompok terkecil dalam masyarakat dan paling dekat dengan kehidupan individu adalah keluarga. Di dalam keluarga, setiap individu yang merupakan anggota dari keluarga akan saling berinteraksi. Di dalam keluarga, ada yang berupa keluarga batih (nucliar family) atau keluarga kecil serta keluarga luas (extended family) yang merupakan gabungan dari beberapa keluarga batih.
- Konsep-Konsep Pokok
Masyarakat merupakan konsep yang paling mendasar dalam ilmu sosial dan ilmu perilaku. Secara umum, istilah masyarakat dibedakan dalam dua kata, yaitu society dan community. Secara harfiah, society merupakan pengertian dari masyarakat luas, yang memiliki tujuan bersama dan cenderung saling bekerja sama. Society dibagi lagi menjadi beberapa kelompok-kelompok kecil yang dikenal dengan community atau kominitas. Komunitas merupakan suatu wadah yang dijadikan sebagai sarana interaksi dari berbagai system utama. Dalam komunitas, individu dapat menujukan integritas serta perilaku dalam masyarakat yang kompleks.
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam upaya untuk memahami suatu gejala sosial dalam masyarakat, yaitu pendekatan etik dan pendekatan emik. Modernisasi meriupakan salah satu gejala sosial yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Individu yang mampu untuk mengubah gaya berfikir dan lebih terbuka merupakan salah satu contoh dari masyarakat modern. Artinya, masyarakat modern lebih terbuka dan bersedia untuk membuka diri dan menerima setiap gagasan-gagasan baru yang berguna untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam upaya mengendalikan lingkungannya. Hal ini tentu saja berbeda dengan masyarakat tradisional yang hidupnya sangat ditentukan oleh lingkungan. Sedangkan masyarakat lebih menggunakan akal ataupun keterampilannya untuk mengatur lingkungannya agar sesuai dengan apa yang diinginkannya.
- Perilaku dan Masalah Kesehatan Masyarakat
Aspek fisik dan aspek non fisik merupakan aspek utama dalam masalah kesehatan masyarakat. Aspek fisik merupakan suatu keadaan dimana ada tidaknya sarana kesehatan dan pengobatan masyarakat, dan aspek non fisik lebih mengarah kepada tindakan atau perilaku kesehatan. Pengetahuan, sikap, dan tindakan merupakan perwujudan dari perilaku individu. Dengan memiliki pengetahuan dan sikap tentang kesehatan, maka individu akan bertindak dan berperilaku yang berhubungan tentang kesehatan. Sehingga faktor perilaku memiliki pengaruh besar bagi status kesehatan individu maupun masyarakat.
Beberapa Pendekatan Sosiologis
- Model Evolusi
Masyarakat merupakan inti dari model ini. Model ini berasal dari teori evolusi Charles Darwin yang mengemukakan bahwa setiap spesies akan melakukan penyesuaian terhadap lingkungannya untuk tetap bertahan hidup. Yang apabila spesies tersebut dapat mempertahankan hidupnya, maka spesies tersebut berhasil melakukan penyesuaian terhadap lingkungan, dan perubahan tersebut akan diturunkan kepada keturunan selanjutnya. Apabila dianalogikan dengan kondisi kelangsungan hidup masyarakat manusia, maka akan menimbulkan beberapa kemungkinan. Manusia akan mengalami perubahan fisik agar dapat mempertahankan kehidupannya dalam lingkungan yang ditempatinya. Dan yang kedua, apabila manusia tidak mampu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan, maka kemungkinan manusia akan mati atau meninggalkan lingkungan tersebut.
- Model Struktural Fungsional
Menurut model ini, masyarakat terdiri bagian-bagian yang berfungsi secara integral dalam mempertahankan kelangsungan hidup suatu system sosial. Bagian-bagian ini tentu saja kelompok-kelompok yang memiliki tujuan ataupun fungsi-fungsi tertentu. Model ini seringkali digunakan untuk mempelajari sejarah perkembangan peradaban manusia. Akan tetapi, model ini tidak mempermasalahkan sejarah terbentuknya suatu perilaku, melainkan lebih menekankan ke arah konsekuensi. Sehingga jika hendak memahami suatu bagian atau struktur dalam masyarakat, maka yang perlu dilihat adalah fungsi dan akibat apa yang ditimbulkan dari hal tersebut.
- Model konflik
Menurut model ini, di dalam masyarakat selalu terdapat pertentangan antar individu maupun kelompok. Karena dalam kehidupan sosial, untuk memperoleh kekuatan dan keuntungan bukan berdasarkan atas konsensus, melainkan berdasarkan kompetisi ataupun persaingan. Menurut model ini, kepercayaan terhadap adanya keseimbangan dari komponen masyarakat adalah suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Konflik yang terjadi di dalam masyarakat tidak selalu berakibat kerugian, akan tetapi lebih memotivasi untuk mendapat keuntungan yang besar. Dengan kata lain, apabila konflik tejadi antar dua kelompok, maka akan muncul solidaritas yang tinggi antar sesama anggota dari kelompok masing-masing.
- Model Interaksi Simbolik
Menurut model ini, setiap individu dalam masyarakat dilihat sebagai orang-orang yang melakukan interaksi satu sama lain. Model ini lebih memfokuskan pandangan terhadap individu. Karena individu dianggap sebagai suatu struktur yang menyusun masyarakat. Dan di dalam masyarakat, komunikasi antar sesama individu sangat diperlukan. Sehingga model interaksi simbolik ini lebih tepat digunakan untuk menganalisa hubungan antar dokter dan pasien.
- Penerapan Konsep Soiologi Dalam Praktek Medis
Penerapan konsep sosiologi dalam praktek medis adalah suatu konsep yang menunjukan adanya unsur-unsur umum yang terdapat pada pasien yang terdapat pada setioap situasi atau interaksi. Interaksi yang dimaksud yaitu interaksi dimana dokter atau petugas kesehatan dan pasien memberikan pelayanan praktek medis dalam bentuk stuktur, yakni dengan memperhatikan apa saja yang bisa terjadi dan juga tujuan pada situasi tersebut. Meskipun dokter terlibat dalam kegiatan-kegiatan tertentu, namun masyarakat juga berperan dalam kegiatan yang berkaitan dengan peran dokter. Salah satu contoh yang dimaksud disini adalah sifat umum dari peranan dokter ataupun peranan pasien. Didalamnya terdapat situasi yang sama dan juga perbedaan-perbedaan di mata para pelaku yang ikut berperan didalamnya. Dari uraian di atas, bagi sosiologi adalah implikasi bagi peran-peran individu yang hidup berkelompok misalnya kelnuarga, suku bangsa, sekolah, dan lain-lain.
- Pendidikan Kesehatan dan Beberapa Model Perubahan Perilaku
Mengingat tujuan akhir dari program kesehatan adalah menumbuhkan perilaku sehat dalam masyarakat dan fungsi dari petugas kesehatan yaitu informasi atau pendidikan tentang kesehatan. Pendidikan kesehatan pada dasarnya adalah suatu proses mendidik individu atau masyarakat agar mereka dapat memecahkan masalah-masalah kesehatan yang dihadapi. Pendidikan kesehatan mempunyai unsur masukan atau input (perilaku pemakai sarana kesehatan dan petugas kesehatan) yang telah diolah dengan teknik-teknik tertentu akan menghasilkan keluaran output (perubahan perilaku kesehatan masyarakat). Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku yaitu faktor sosial, budaya, ekonomoi, dan juga politik sehingga pendidikan kesehatan bukanlah tugas yang mudah. Secara umum, upaya mengubah perilaku dapat digolongkan menjadi tiga macam cara yaitu menggunakan kekuasaan ataupun kekuatan, memberikan informasi, dan diskusi atau partisipasi.
- Model “Kepercayaan Kesehatan” Dari Rosentock
Menurut Rosentock, perilaku individu ditentukan oleh motif dan kepercayaan tanpa memperdulikan apakah motif dan kepercayaan tersebut sesuai dengan realita tentang apa yang baik untuk individu tersebut. Model kepercayaan ini mencakup lima unsur utama. Yang pertama adalah persepsi individu tentang kemungkinannya terkena suatu penyakit (perceived susceptibility), yang kedua adalah pandangan individu tentang beratnya penyakit tersebut (perceived serisousness), yang ketiga adalah bahwa individu itu telah terserang penyakit tersebut, makin dirasakan besar ancamannya (perceived threats), yang keempat dan kelima adalah, alternatif yang diajukan petugas tersebut, tergantung atas hambatan dari pelaksanaan alternatif tersebut (perceived benefit dan barriers). Untuk menerima atau menolak alternatif tersebut, diperlakukan satu unsur lagi, yaitu faktor pencetus (cues to action) yang berasal dari dalam individu itu sendiri. Bagi individu yang memiliki motifasi rendah untuk bertindak diperlukan rangsangan yang lebih intensif untuk mencetuskan respon yang diinginkan, sebab bagi kelompok semacam ini penghayatan subjektif terhadap hambatan atau resiko negatif dari pengobatan penyakitnya, jauh lebih kuat daripada gejala objektif dari penyakit itu ataupun pandangan atau saran profesional petugas kesehatan.
Special Thanks To Rizky Lestari
Langganan:
Postingan (Atom)







