Tampilkan postingan dengan label Ilmu Kesehatan Masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Kesehatan Masyarakat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Mei 2016

BIOMEDIK : Istilah-Istilah Dalam Parasitologi

Di dalam artikel kali ini memuat berbagai istilah-istilah dalam parasitologi mulai dari abjad "A" sampai dengan "Z", jadi langsung saja silahkan dibaca, dan apabila berkenan silahkan dishare ataupun didownload. Di sini kita saling berbagi apa yang kita ketahui.

BIOMEDIK : Peranan Sitoplasma, Mitokondria, Dan Ribosom Dalam Metabolisme Sel.

1.    Peranan Sitoplasma, Mitokondria, Dan Ribosom Dalam Metabolisme Sel.
a.    Sitoplasma
Sitoplasma berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan bahan kimia yang penting bagi metabolisme sel, seperti enzim-enzim, ion-ion, gula, lemak dan protein. Sitoplasma adalah tempat dimana semua pekerjaan dalam sel dilakukan. Nutrisi yang diserap, diangkut, dan diproses dalam sitoplasma. Sitoplasma juga menyediakan struktur fisik untuk sel. Sitoplasma memainkan peran mekanik, yaitu (misalnya) untuk mempertahankan bentuk, konsistensi sel dan memberikan suspensi kepada organel. Ini juga merupakan tempat penyimpanan bahan kimia diperlukan untuk kehidupan. Reaksi metabolik penting terjadi di sini, misalnya glikolisis anaerob dan sintesis protein. Didalam sitoplasma itulah berlangsung kegiatan pembongkaran dan penyusunan zat zat melalui reaksi kimia. Misalnya proses pembentukan energi, sintesis asam lemak, asam amino, protein dan Nukelotida. Sitoplasma “mengalir” di dalam sel untuk menjamin berlangsungnya pertukaran zat agar metabolisme berlangsung dengan baik.
b.   Mitokondria
Mitokondria berfungsi sebagai pabrik energi sel yang menghasilkan energi dalam bentuk ATP. Metabolisme karbohidrat akan berakhir di mitokondria ketika piruvat di transpor dan dioksidasi oleh O2¬ menjadi CO2 dan air. Energi yang dihasilkan sangat efisien yaitu sekitar tiga puluh molekul ATP yang diproduksi untuk setiap molekul glukosa yang dioksidasi, sedangkan dalam proses glikolisis hanya dihasilkan dua molekul ATP. Proses pembentukan energi atau dikenal sebagai fosforilasi oksidatif terdiri atas lima tahapan reaksi enzimatis yang melibatkan kompleks enzim yang terdapat pada membran bagian dalam mitokondria. Proses pembentukan ATP melibatkan proses transpor elektron dengan bantuan empat kompleks enzim, yang terdiri dari kompleks I (NADH dehidrogenase), kompleks II (suksinat dehidrogenase), kompleks III (koenzim Q – sitokrom C reduktase), kompleks IV (sitokrom oksidase), dan juga dengan bantuan FoF1 ATP Sintase dan Adenine Nucleotide Translocator (ANT).

Gambar Mitokondria

c.    Fungsi Ribosom
1.    Sebagai tempat sintesis protein
2.    Mesin yang mengatur dan memilih komponen-komponen yang terlibat dalam sintesis protein.
3.    Untuk mengikat asam-asam amino yang ada dalam sitoplasma.

Gambar Ribosom
 
 

2.    Mekanisme Transport Melalui Membran Plasma
Mekanisme transpor pada membran adalah proses keluar masuknya molekul melewati membrane sel. Berbagai macam molekul, seperti glukosa, oksigen, dan karbondioksida senantiasa harus melewati membran sel untuk keluar-masuk sel dalam proses metabolisme.
Transpor zat melalui membran plasma bertujuan :
Ø  Memasukkan gua, asam amino, dan nutrien lain yang diperlukan sel.
Ø  Memasukkan oksigen (O2) dan mengeluarkan karbon dioksida (CO2) pada proses respirasi sel.
Ø  Mengatur konsentrasi ion anorganik di dalam sel, contohnya ion Na+, K+, dan Ca2+.
Ø  Membuang sisa-sisa metabolisme yang bersifat racun.
Ø  Menjaga kestabilan pH.
Ø  Menjaga konsentrasi suatu zat untuk mendukung kerja enzim
Transpor zat dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
1.    Transpor aktif
Pergerakan molekul melawan gradien konsentrasi (atau membran), dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi sehingga memerlukan energi. Sember energi yang diperlukan berupa ATP (adenosin trifosfat). Transpor aktif meliputi pompa ion, kotranspor, dan endositosis-eksositosis.
1)   Pompa ion
Pompa ion adalah transpor ion melalui membran dengan pertukaran ion dari dalam sel dan ion di luar sel. Mekanisme pompa ion terjadi akibat perubahan bentuk pada protein membran sehingga memungkinkan molekul bisa melewatinya untuk keluar atau masuk sel. Perubahan bentuk tersebut dilakukan menggunakan energi ATP.


Seperti ditunjukkan pada Gambar di atas, pompa natrium-kalium mengangkut ion Na+ dan ion K+dengan cara sebagai berikut:
1.    pompa Natrium-kalium mengikat ATP dan tiga ion Na + intraseluler.
2.    ATP dihidrolisis menghasilkan adenosin difosfat (ADP) dan fosfat anorganik. Fosfat bebas memfosforilasi pompa natrium-kalium.
3.    Perubahan konformasi pada pompa mengekspos ion Na+ ke luar.
4.    Bentuk pompa yang terfosforilasi memiliki afinitas ion Na + lebih rendah, sehingga mereka dilepaskan. Pompa mengikat dua ion K + ekstraseluler. Hal ini menyebabkan defosforilasi pompa, kembali ke keadaan konformasi sebelumnya, mengangkut ion K + ke dalam sel.
5.    Bentuk pompa yang tidak terfosforilasi memiliki afinitas yang lebih tinggi untuk Na + ion daripada ion K +, sehingga dua ion K + yang terikat dilepaskan.
6.    ATP mengikat, dan proses dimulai lagi.
2)   Kotranspor
Kotranspor adalah transpor aktif dari zat tertentu yang dapat menginisasi transpor zat terlarut lainnya. Kotranspor dilakukan oleh dua protein transpor dengan energi ATP. Contoh : pompa proton H+  yang menggerakkan transpor sukrosa pada sel tumbuhan, kemudia ion H+ yang keluar membawa sukrosa untuk memasuki protein transpor lainnya. Mekanisme transpor H+ berguna untuk memindahkan sukrosa hasil fotosintesis ke pembuluh daun dan selanjutnya didistribusikan ke akar.
3)   Endositosis-eksositosis
Endositosis adalah transpor makromolekul dan materi ke dalam sel dengan cara membentuk vesikula baru dari membran plasma. Endositosis dibagi menjadi 2, yaitu pinositosis dan fagositosis. Sedangkan, eksositosis adalah transpor makromolekul dan materi ke luar sel dengan membentuk vesikula baru.



2.    Transpor pasif
Transpor pasif merupakan pergerakan molekul mengikuti gradien konsentrasi, dari konsentrasi yang tinggi ke konsentrasi rendah, sehingga tidak memerlukan energi. Transpor pasif meliputi difusi, difusi dipermudah, dan osmosis.
1)   Difusi
Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan seimbang dimana perpindahan molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi. Contoh yang sederhana adalah pemberian gula pada cairan teh tawar, lama kelamaan teh itu menjadi manis. Faktor yang memengaruhi kecepatan difusi :
Ø Ukuran partikel. Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan bergerak, sehingga kecepatan difusi semakin tinggi.
Ø Ketebalan membran. Semakin tebal membran, semakin lambat kecepatan difusi.
Ø Luas suatu area. Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan difusinya.
Ø Jarak. Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat kecepatan difusinya.
Ø Suhu. Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak dengan lebih cepat. Maka, semakin cepat pula kecepatan difusinya


2)   Osmosis
Osmosis adalah pergerakan air dari konsentrasi yang lebih tinggi ke rendah melewati membran semipermeabel. Contoh peristiwa osmosis adalah air laut yang meskipun memiliki beragam jenis zat terlarut, molekul airnya tetap akan bergerak ke larutan gula yang konsentrasinya lebih tinggi.
Efek osmosis :
Jika konsentrasi larutan sel lebih rendah dibandingkan konsentrasi lingkungan sekitarnya, maka air akan segera bergerak ke luar meninggalkan sel secara otomatis, akibatnya sel menyusut dan mati (PLASMOLISIS).
Jika konsentrasi larutan sel lebih tinggi dibandingkan konsentrasi lingkungan sekitarnya, maka air akan segera bergerak masuk ke dalam sel secara otomatis, akibatnya sel membengkak dan pecah, kecuali pada sel tumbuhan hanya menggelembung dan menegan


3)   Difusi terfasilitasi
Difusi terfasilitasi yaitu proses difusi yang dibantu oleh protein pembawa (Carrier protein) seperti proses pengangkutan glukosa dari lumen usus ke dalam pembuluh darah usus halus.


Molekul-molekul yang melewati membran sel dengan difusi terfasilitasi adlah molekul-molekul yang beurkuran besar seperti glukosa maupun molekul-molekul kecil seperti ar yang memiliki protein membran khusus sebagai media transpor.



Sabtu, 02 Juni 2012

MAKANAN SEHAT : Manfaat dari Tempe

Lama dah tidak update, mumpung lagi ga ada kegiatan aku pengen share yang mungkin layak untuk diketahui oleh teman-teman. Ini mengenai manfaat tempe. Tentunya sabagai anak kost-kostan tempe pasti jadi menu utama kita, jadi tentunya kita harus tau dong manfaat tempe itu apa bagi kita.  So, ini sedikit ulasan tentang tempe, selamat membaca :

Tempe merupakan salah satu produk makanan dari kacang kedelai yang telah di fermentasi. Tempe banyak mengandung gizi tinggi yang banyak manfaat bagi kesehatan seperti protein, karbohidrat, vitamin, lemak, serat,  enzim, daidzein, genisten, serta komponen antibakteri  yang bermanfaat untuk kesehatan.

Manfaat tempe bagi kesehatan baik untuk diberikan kepada semua umur ( dari bayi hingga lansia ). Tempe merupakan makanan yang tergolong ekonomis dari segi harga, dan bisa di konsumsi semua golongan. Tempe sering dijumpai di rumah maupun di warung-warung, sebagai lauk dan pelengkap hidangan ternyata tempe memiliki kandungan dan nilai cerna yang lebih baik dibandingkan dengan kedelai.

Tempe dipercaya bermanfaat untuk mencegah anemia dan osteoporosis, dua penyakit yang banyak diderita wanita, sebab kodrat wanita yang harus mengalami haid, hamil serta menyusui bayi. Penyakit anemia ini dapat menyerang wanita yang malas makan, karena takut gemuk, sehingga persediaan dan produksi sel-sel darah merah dalam tubuh yang menurun., tempe juga dapat berperan sebagai pemasok mineral, vitamin B12 (yang terdapat pada pangan hewani), dan zat besi yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah. Selain itu, tempe juga dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Senyawa protein, asam lemak PUFA, serat, niasin, dan kalsium di dalam tempe dapat mengurangi jumlah kolesterol jahat.
Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isofalvon. Seperti halnya vitamin C, E dan karotenoid, isoflavon merupakan antioksidan yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikan bebas. Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon, yaitu daidzein, glisitein, dan genistein. Pada tempe, di samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4 trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai.

Penelitian yang dilakukan di Universitas North Carolina, Amerika Serikat, menemukan bahwa genestein dan phytoestrogen yang terdapat pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat, payudara dan penuaan (aging). Antioksidan ini disentesis pada saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri Micrococcus leteus dan Coreyne bacterium.
Pada tempe terjadi peningkatan nilai gizi kurang lebih 2 kali lipat setelah kedelai difermentasi menjadi tempe, seperti kadar vitamin B2, vitamin B12, niasin, dan asam pantorenat. Bahkan hasil analisis, gizi tempe menunjukkan kandungan niasin sebesar 1.13 mg/100 gram berat tempe yang dapat dimakan.Karena kadar niasin pada kedelai hanya berkisar 0,58 mg.

Manfaat Tempe bagi kesehatan antara lain :
  • Mencegah timbulnya hipertensi
  • Memiliki sifat anti oksidan, menolak kanker
  • Kandungan kalsiumnya yang tinggi, tempe dapat mencegah osteoporosis
  • Protein yang terdapat dalam tempe sangat tinggi, mudah dicerna sehingga baik untuk mengatasi diare
  • Mengandung zat besi, flafoid yang bersifat antioksidan sehingga menurunkan tekanan darah
  • Daya hipokolesterol. Kandungan asam lemak jenuh ganda pada tempe bersifat dapat menurunkan kadar kolesterol
  • Mengandung superoksida desmutase yang dapat mengendalikan radikal bebas, baik bagi penderita jantung
  • Penanggulangan anemia, ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin karena kurang tersedianya zat besi (Fe), tembaga (Cu), Seng (Zn), protein, asam folat dan vitamin B12, di mana unsur-unsur tersebut terkandung dalam tempe
  • Anti infeksi, hasil survey menunjukkan bahwa tempe mengandung senyawa anti bakteri yang diproduksi oleh karang tempe (R. Oligosporus) merupakan antibiotika yang bermanfaat meminimalkan kejadian infeksi
  • Mencegah masalah gizi ganda (akibat kekurangan dan kelebihan gizi) beserta berbagai penyakit yang menyertainya, baik infeksi maupun degeneratif
Sumber : Berbagai Sumber

Kamis, 01 Desember 2011

Sosiologi Kesehatan



  • Memperkenalkan Sosiologi Kesehatan

Ilmu sosiologi adalah ilmu yang mencakup seluruh aspek ilmu pengetahuan, tanpa terkecuali ilmu kesehatan. Sehingga mengakibatkan para ahli kesehatan semakin banyak menaruh minat kepada ilmu sosiologi. Hal ini tidak terlepas dari permasalahan yang dihadapi oleh para tenaga kesehatan ketika berhadapan langsung dengan masyarakat yang merupakan suatu kelompok sosial terluas. Didalam menjalankan praktek, para dokter seringkali menghadapi berbagai persoalan, diantaranya yaitu kurangnya minat masyarakat untuk berobat ke rumah sakit ataupun ke dokter. Hal ini di karenakan masih adanya kecurigaan masyarakat meskipun dokter tersebut sangat mengerti tentang penyakit dan bagaimana cara untuk mengobatinya.
Banyak masyarakat lebih memilih mengobati penyakitnya sendiri ataupun berobat ke dukun daripada berobat ke rumah sakit ataupun ke dokter. Hal ini sesuai dengan survey kesehatan rumah tangga (1980) yang mengemukakan bahwa 34 % masyarakat lebih memilih mengobati penyakitnya sendiri, dan 6 % memilih berobat ke dukun. Data  tersebut tentu saja sangat  mengejutkan bagi kalangan ahli kesehatan. Maka dari itu, para ahli kesehatan sangat membutuhkan penjelasan sosiologis tentang keadaan dan kondisi yang terjadi dalam suatu wilayah masyarakat, dan mencari cara dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi. Untuk lebih lanjut, para tenaga kesehatan yang melayani masyarakat diharuskan untuk memahami kondisi sosiologis dari manusia (individu) yang meliputi penjelasan-penjelasan berikut ini.
  • Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Manusia dikatakan sebagai mahluk sosial karena manusia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat. Dikatakan demikian, karena manusia membutuhkan untuk saling berinteraksi sosial dengan orang lain di dalam suatu kelompok untuk mempertahankan eksistensinya sebagai manusia. Kelompok terkecil dalam masyarakat dan paling dekat dengan kehidupan individu adalah keluarga. Di dalam keluarga, setiap individu yang merupakan anggota dari keluarga akan saling berinteraksi. Di dalam keluarga, ada yang berupa keluarga batih (nucliar family) atau keluarga kecil serta keluarga luas (extended family) yang merupakan gabungan dari beberapa keluarga batih.
  • Konsep-Konsep Pokok
Masyarakat merupakan konsep yang paling mendasar dalam ilmu sosial dan ilmu perilaku. Secara umum, istilah masyarakat dibedakan dalam dua kata, yaitu  society dan community. Secara harfiah, society merupakan pengertian dari masyarakat luas, yang memiliki tujuan bersama dan cenderung saling bekerja sama. Society dibagi lagi menjadi beberapa kelompok-kelompok kecil yang dikenal dengan community atau kominitas. Komunitas merupakan suatu wadah yang dijadikan sebagai sarana interaksi dari berbagai system utama. Dalam komunitas, individu dapat menujukan integritas serta perilaku dalam masyarakat yang kompleks.
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam upaya untuk memahami suatu gejala sosial dalam masyarakat, yaitu pendekatan etik dan pendekatan emik. Modernisasi meriupakan salah satu gejala sosial yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Individu yang mampu untuk mengubah gaya berfikir dan lebih terbuka merupakan salah satu contoh dari masyarakat modern. Artinya, masyarakat modern lebih terbuka dan bersedia untuk membuka diri dan menerima setiap gagasan-gagasan baru yang berguna untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam upaya mengendalikan lingkungannya. Hal ini tentu saja berbeda dengan masyarakat tradisional yang hidupnya sangat ditentukan oleh lingkungan. Sedangkan masyarakat lebih menggunakan akal ataupun keterampilannya untuk mengatur lingkungannya agar sesuai dengan apa yang diinginkannya.
  • Perilaku dan Masalah Kesehatan Masyarakat
Aspek fisik dan aspek non fisik merupakan aspek utama dalam masalah kesehatan masyarakat. Aspek fisik merupakan suatu keadaan dimana ada tidaknya sarana kesehatan dan pengobatan masyarakat, dan aspek non fisik lebih mengarah kepada tindakan atau perilaku kesehatan. Pengetahuan, sikap, dan tindakan merupakan perwujudan dari perilaku individu. Dengan memiliki pengetahuan dan sikap tentang kesehatan, maka individu akan bertindak dan berperilaku yang berhubungan tentang kesehatan. Sehingga faktor perilaku memiliki pengaruh besar bagi status kesehatan individu maupun masyarakat.
Beberapa Pendekatan Sosiologis
  • Model Evolusi
Masyarakat merupakan inti dari model ini. Model ini berasal dari teori evolusi Charles Darwin yang mengemukakan bahwa setiap spesies akan melakukan penyesuaian terhadap lingkungannya untuk tetap bertahan hidup. Yang apabila spesies tersebut dapat mempertahankan hidupnya, maka spesies tersebut berhasil melakukan penyesuaian terhadap lingkungan, dan perubahan tersebut akan diturunkan kepada keturunan selanjutnya. Apabila dianalogikan dengan kondisi kelangsungan hidup masyarakat manusia, maka akan menimbulkan beberapa kemungkinan. Manusia akan mengalami perubahan fisik agar dapat mempertahankan kehidupannya dalam lingkungan yang ditempatinya. Dan yang kedua, apabila manusia tidak mampu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan, maka kemungkinan manusia akan mati atau meninggalkan lingkungan tersebut.
  • Model Struktural Fungsional
Menurut model ini, masyarakat terdiri bagian-bagian yang berfungsi secara integral dalam mempertahankan kelangsungan hidup suatu system sosial. Bagian-bagian ini tentu saja kelompok-kelompok yang memiliki tujuan ataupun fungsi-fungsi tertentu. Model ini seringkali digunakan untuk mempelajari sejarah perkembangan peradaban manusia. Akan tetapi, model ini tidak  mempermasalahkan sejarah terbentuknya suatu perilaku, melainkan lebih menekankan ke arah konsekuensi. Sehingga jika hendak memahami suatu bagian atau struktur dalam masyarakat, maka yang perlu dilihat adalah fungsi dan akibat apa yang ditimbulkan dari hal tersebut.
  • Model konflik
Menurut model ini, di dalam masyarakat selalu terdapat pertentangan antar individu maupun kelompok. Karena dalam kehidupan sosial, untuk memperoleh kekuatan dan keuntungan bukan berdasarkan atas konsensus, melainkan berdasarkan kompetisi ataupun persaingan. Menurut model ini, kepercayaan terhadap adanya keseimbangan dari komponen masyarakat adalah suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Konflik yang terjadi di dalam masyarakat tidak selalu berakibat kerugian, akan tetapi lebih memotivasi untuk mendapat keuntungan yang besar. Dengan kata lain, apabila konflik tejadi antar dua kelompok, maka akan muncul solidaritas yang tinggi antar sesama anggota dari kelompok masing-masing.
  • Model Interaksi Simbolik
Menurut model ini, setiap individu dalam masyarakat dilihat sebagai orang-orang yang melakukan interaksi satu sama lain. Model ini lebih memfokuskan pandangan terhadap individu. Karena individu dianggap sebagai suatu struktur yang menyusun masyarakat. Dan di dalam masyarakat, komunikasi antar sesama individu sangat diperlukan. Sehingga model interaksi simbolik ini lebih tepat digunakan untuk menganalisa hubungan antar dokter dan pasien.
  • Penerapan Konsep Soiologi Dalam Praktek Medis
Penerapan konsep sosiologi dalam praktek medis adalah suatu konsep yang menunjukan adanya unsur-unsur umum yang terdapat pada pasien yang terdapat pada setioap situasi atau interaksi. Interaksi yang dimaksud yaitu interaksi dimana dokter atau petugas kesehatan dan pasien memberikan pelayanan praktek medis dalam bentuk stuktur, yakni dengan memperhatikan apa saja yang bisa terjadi dan juga tujuan pada situasi tersebut. Meskipun dokter terlibat dalam kegiatan-kegiatan tertentu, namun masyarakat juga berperan dalam kegiatan yang berkaitan dengan peran dokter. Salah satu contoh yang dimaksud disini adalah sifat umum dari peranan dokter ataupun peranan pasien. Didalamnya terdapat situasi yang sama dan juga perbedaan-perbedaan di mata para pelaku yang ikut berperan didalamnya. Dari uraian di atas, bagi sosiologi adalah implikasi bagi peran-peran individu yang hidup berkelompok misalnya kelnuarga, suku bangsa, sekolah, dan lain-lain.
  • Pendidikan Kesehatan dan Beberapa Model Perubahan Perilaku
Mengingat tujuan akhir dari program kesehatan adalah menumbuhkan perilaku sehat dalam masyarakat dan fungsi dari petugas kesehatan yaitu informasi atau pendidikan tentang kesehatan. Pendidikan kesehatan pada dasarnya adalah suatu proses mendidik individu atau masyarakat agar mereka dapat memecahkan masalah-masalah kesehatan yang dihadapi. Pendidikan kesehatan mempunyai unsur masukan atau input (perilaku pemakai sarana kesehatan dan petugas kesehatan) yang telah diolah dengan teknik-teknik  tertentu akan menghasilkan keluaran output (perubahan perilaku kesehatan masyarakat). Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku yaitu faktor sosial, budaya, ekonomoi, dan juga politik sehingga pendidikan kesehatan bukanlah tugas yang mudah. Secara umum, upaya mengubah perilaku dapat digolongkan menjadi tiga macam cara yaitu menggunakan kekuasaan ataupun kekuatan, memberikan informasi, dan diskusi atau partisipasi.
  • Model “Kepercayaan Kesehatan” Dari Rosentock
Menurut Rosentock, perilaku individu ditentukan oleh motif dan kepercayaan tanpa memperdulikan apakah motif dan kepercayaan tersebut sesuai dengan realita tentang apa yang baik untuk individu tersebut. Model kepercayaan ini mencakup lima unsur utama. Yang pertama adalah persepsi individu tentang kemungkinannya terkena suatu penyakit (perceived susceptibility), yang kedua adalah pandangan individu tentang  beratnya penyakit tersebut (perceived serisousness), yang ketiga adalah bahwa individu itu telah terserang penyakit tersebut, makin dirasakan besar ancamannya (perceived threats), yang keempat dan kelima adalah, alternatif yang diajukan petugas tersebut, tergantung atas hambatan dari pelaksanaan alternatif tersebut (perceived benefit dan barriers). Untuk menerima atau menolak alternatif tersebut, diperlakukan satu unsur lagi, yaitu faktor pencetus (cues to action) yang berasal dari dalam individu itu sendiri. Bagi individu yang memiliki motifasi rendah untuk bertindak diperlukan rangsangan yang lebih intensif untuk mencetuskan respon yang diinginkan, sebab bagi kelompok semacam ini penghayatan subjektif terhadap hambatan atau resiko negatif dari pengobatan penyakitnya, jauh lebih kuat daripada gejala objektif dari penyakit itu ataupun pandangan atau saran profesional petugas kesehatan.
Special Thanks To Rizky Lestari